Limbangantengah.id – NASA mengumumkan rencana ambisius membangun pangkalan Bulan sekaligus meluncurkan pesawat antariksa bertenaga nuklir pada 2028. Badan antariksa Amerika Serikat tersebut secara resmi memaparkan visi ini dalam konferensi pers bertajuk Ignition pada Selasa (24/3) tahun 2026.
Langkah strategis ini menandai perubahan besar dalam program Artemis. NASA secara resmi menghentikan pembangunan stasiun ruang angkasa orbit Bulan, Gateway, dan mengalihkan seluruh komponennya untuk mendanai pangkalan baru di permukaan Bulan senilai 20 miliar dolar AS. Administrator NASA, Jared Isaacman, menegaskan ambisi instansinya untuk mencetak sejarah baru.
Melalui pernyataan resmi, Jared Isaacman berkomitmen untuk kembali meraih hal yang nyaris mustahil. Staf NASA bertugas kembali ke Bulan sebelum masa jabatan Presiden Donald Trump berakhir tahun 2026. Mereka berupaya keras membangun pangkalan Bulan sebagai bukti nyata kepemimpinan Amerika Serikat di luar angkasa.
Rencana NASA Bangun Pesawat Nuklir dan Pangkalan Bulan 2026
NASA menetapkan target sangat ambisius dalam satu tahun yang sama. Mereka akan menjalankan dua misi pendaratan manusia di Bulan sekaligus menerbangkan pesawat revolusioner. Faktanya, program Artemis sempat mengalami berbagai penundaan sejak perencanaan awal tahun 2019.
Data mencatat NASA menargetkan pendaratan di Bulan melalui Artemis III pada tahun 2024. Namun, hingga awal 2026, misi Artemis II yang merupakan penerbangan berawak perdana mengelilingi Bulan belum lepas landas. Menariknya, Jared Isaacman menunjuk pembengkakan biaya dan penundaan teknis sebagai alasan utama percepatan program saat ini.
Selain itu, Isaacman mengumumkan pengembangan Space Reactor-1 Freedom. Ini merupakan pesawat antariksa antarplanet pertama di dunia yang menggunakan energi nuklir sebagai penggerak utama. NASA menargetkan pesawat ini meluncur menuju Mars pada 2028.
Pemerintah AS menilai perbedaan antara sukses dan gagal dalam proyek ini hanya soal waktu, dihitung dalam hitungan bulan, bukan tahun. NASA pun melakukan berbagai langkah efisiensi untuk mempercepat progres:
- Melakukan standarisasi desain roket secara ketat.
- Meningkatkan kolaborasi dengan pihak industri swasta.
- Memperbanyak frekuensi peluncuran antariksa.
Strategi Pembangunan Pangkalan Bulan dan Misi Artemis
NASA merancang proses pembangunan pangkalan Bulan melalui tiga tahap sistematis. Tahap pertama melibatkan eksperimen desain dan fungsi. Tahap kedua mencakup pembangunan infrastruktur semi-huni. Terakhir, NASA akan mengubahnya menjadi pangkalan permanen untuk aktivitas jangka panjang.
Tabel berikut merinci target misi Artemis terbaru tahun 2026:
| Misi Artemis | Tujuan Utama | Target Tahun |
|---|---|---|
| Artemis III | Uji docking kapsul Orion dengan pendarat | 2027 |
| Artemis IV | Pendaratan manusia di Bulan | 2028 |
| Artemis V | Pendaratan manusia kedua & infrastruktur | 2028 |
Dengan demikian, NASA membidik pendaratan manusia di Bulan secara rutin setiap enam bulan. Mereka akan memanfaatkan teknologi komersial serta berbagai perangkat yang bisa digunakan ulang untuk menekan biaya operasional.
Dinamika Persaingan Geopolitik dan Teknologi Nuklir
Faktor geopolitik memicu percepatan ambisi NASA di tahun 2026. Dunia mengetahui China menargetkan pendaratan astronot di Bulan sebelum 2030. Tragisnya, negara tersebut juga membidik wilayah kutub selatan Bulan yang sama sebagai lokasi pendaratan.
Oleh karena itu, NASA menghentikan proyek Gateway tanpa batas waktu. Sebelumnya, Gateway berfungsi sebagai stasiun ruang angkasa orbit Bulan yang melibatkan dukungan dari Eropa, Kanada, Jepang, dan Uni Emirat Arab. Meskipun begitu, NASA tetap menempatkan Bulan sebagai batu loncatan utama menuju eksplorasi ke Planet Mars.
Dalam skenario ini, pesawat Space Reactor-1 Freedom memainkan peran krusial. NASA merancang pesawat ini agar mampu mengirimkan muatan Skyfall. Muatan tersebut berupa helikopter mini yang bertugas menjelajahi permukaan planet Mars.
Kendati rencana sudah tersusun, perkembangan teknologi pesawat nuklir maupun armada helikopter Mars belum mencapai tahap final. NASA mengakui masih terdapat berbagai tantangan teknis yang cukup berat di lapangan. Namun, mereka tetap berupaya keras untuk menjaga posisi Amerika Serikat di depan persaingan global.
Singkatnya, NASA kini berdiri di persimpangan antara ambisi besar dan realitas teknis. Keberhasilan misi 2026 hingga 2028 nanti akan menentukan arah masa depan umat manusia di luar angkasa. Semangat juang tim NASA dalam menggapai mimpi ini membuktikan dedikasi tinggi bagi ilmu pengetahuan global.
