Beranda » Edukator Finansial » Cara Menghitung Valuasi Saham: Panduan Lengkap PER, PBV & ROE

Cara Menghitung Valuasi Saham: Panduan Lengkap PER, PBV & ROE

Investasi saham bukan sekadar membeli “kode huruf” dan berharap harganya naik besok pagi. Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan investor pemula adalah membeli saham tanpa mengetahui nilai aslinya, atau sering disebut membeli kucing dalam karung. Akibatnya, risiko membeli di harga pucuk (terlalu mahal) menjadi sangat tinggi.

Untuk menghindari kerugian tersebut, investor perlu memahami cara menghitung valuasi saham. Kemampuan ini menjadi fondasi utama untuk membedakan antara harga pasar (price) dengan nilai wajar (value). Artikel ini akan mengupas tuntas metode perhitungan valuasi yang paling umum digunakan namun sangat powerful, yaitu PER, PBV, dan hubungannya dengan ROE.

Singkatnya, cara menghitung valuasi saham dilakukan dengan membandingkan harga pasar saat ini dengan kinerja fundamental perusahaan. Metode yang paling umum adalah Price to Earning Ratio (PER) untuk melihat waktu balik modal, dan Price to Book Value (PBV) untuk melihat nilai aset bersih. Jika rasio ini lebih rendah dari rata-rata industri atau historisnya, saham tersebut bisa dikatakan murah (undervalued).


Apa Itu Valuasi Saham dan Mengapa Penting?

Valuasi saham adalah proses analitis untuk menentukan nilai wajar (instrinsik) dari suatu perusahaan. Nilai ini menjadi patokan apakah harga saham yang tertera di aplikasi sekuritas saat ini tergolong murah (undervalued), wajar (fair value), atau mahal (overvalued).

Baca Juga:  Cara Baca Candlestick Saham: Panduan Akurat & Lengkap (2026)

Tanpa valuasi, aktivitas di pasar modal tidak ubahnya seperti berjudi. Pentingnya valuasi terletak pada prinsip “Margin of Safety”. Dengan membeli saham di bawah nilai wajarnya, investor memiliki bantalan keamanan jika pasar mengalami koreksi atau kinerja perusahaan sedikit meleset dari target.

Perbedaan Valuasi Relatif dan Absolut

Sebelum masuk ke rumus, perlu dipahami bahwa ada dua pendekatan besar dalam valuasi.

1. Valuasi Absolut

Metode ini mencoba mencari nilai intrinsik perusahaan berdasarkan arus kas masa depan. Contoh yang paling terkenal adalah Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini sangat mendetail namun cukup rumit dan membutuhkan banyak asumsi.

2. Valuasi Relatif

Metode ini membandingkan nilai perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis (peers) atau dengan rata-rata historisnya sendiri. Rasio seperti PER dan PBV masuk dalam kategori ini. Pendekatan ini lebih mudah diterapkan oleh investor ritel.

Cara Menghitung Valuasi dengan Metode PER (Price to Earning Ratio)

PER adalah rasio yang menggambarkan berapa harga yang harus dibayar investor untuk setiap Rupiah laba yang dihasilkan perusahaan. Secara sederhana, PER menunjukkan berapa tahun modal investor akan kembali (break even) jika perusahaan membagikan 100% labanya sebagai dividen dan labanya konstan.

Rumus PER adalah:

$$PER = \frac{\text{Harga Saham}}{\text{Laba per Lembar Saham (EPS)}}$$

Contohnya, jika saham ABCD harganya Rp1.000 dan Laba per Saham (EPS) adalah Rp100, maka PER-nya adalah 10x. Artinya, pasar menghargai saham ini 10 kali lipat dari laba tahunannya.

Cara Menghitung Valuasi dengan Metode PBV (Price to Book Value)

PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku (book value) perusahaan. Nilai buku adalah total aset dikurangi total utang, atau sama dengan ekuitas. Rasio ini sangat cocok digunakan untuk menilai perusahaan di sektor keuangan (bank) atau properti yang asetnya berwujud.

Baca Juga:  Trading Modal Kecil: 7 Strategi Aman Mulai 2026

Rumus PBV adalah:

$$PBV = \frac{\text{Harga Saham}}{\text{Nilai Buku per Lembar Saham (BVPS)}}$$

Umumnya, PBV di bawah 1 kali dianggap murah karena investor membeli saham dengan harga diskon dari nilai bersih kekayaan perusahaan. Namun, perlu dicek kembali apakah aset tersebut produktif atau tidak.

Peran ROE (Return on Equity) dalam Menentukan Kualitas Valuasi

Seringkali investor terjebak membeli saham “murah” (PER rendah & PBV rendah), tapi ternyata saham tersebut murahan (value trap). Di sinilah peran ROE. ROE mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal yang dimiliki.

Rumus ROE:

$$ROE = \frac{\text{Laba Bersih}}{\text{Total Ekuitas}} \times 100\%$$

Saham dengan PER tinggi bisa jadi wajar jika ROE-nya juga tinggi (misal di atas 15-20%). Sebaliknya, saham dengan PBV rendah (misal 0,5x) tapi ROE-nya hanya 2%, bisa jadi memang layak dihargai murah karena tidak mampu mencetak laba yang efisien.

Cara Mencari Data Valuasi di Laporan Keuangan

Banyak teori tidak menjelaskan dari mana angka-angka tersebut didapat. Berikut panduan praktisnya:

  1. Download Laporan Keuangan: Buka situs IDX atau website perusahaan, cari bagian “Investor Relations”.
  2. Cari Laba Bersih: Ada di Laporan Laba Rugi (Statement of Profit or Loss), bagian “Laba Tahun Berjalan yang Dapat Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk”.
  3. Cari Ekuitas: Ada di Laporan Posisi Keuangan (Balance Sheet), bagian “Total Ekuitas”.
  4. Cari Jumlah Saham Beredar: Biasanya ada di Catatan atas Laporan Keuangan bagian Modal Saham.

Setelah data didapat, bagi Laba Bersih dengan Jumlah Saham untuk dapat EPS, dan bagi Ekuitas dengan Jumlah Saham untuk dapat BVPS.

Studi Kasus: Simulasi Menghitung Harga Wajar Saham

Mari lakukan simulasi perhitungan sederhana. Anggaplah kita menganalisis Bank XYZ.

  • Harga Pasar saat ini: Rp4.000
  • EPS (Laba per saham): Rp400
  • BVPS (Nilai buku per saham): Rp2.000
  • Rata-rata PER Industri Bank: 12x
  • Rata-rata PBV Industri Bank: 2.5x
Baca Juga:  7 Cara Investasi P2P Lending Aman & Cuan Maksimal 2026

Analisis:

  1. PER Bank XYZ: 4.000 / 400 = 10x. (Lebih rendah dari industri 12x → Indikasi Murah).
  2. PBV Bank XYZ: 4.000 / 2.000 = 2x. (Lebih rendah dari industri 2.5x → Indikasi Murah).

Kesimpulan Sementara: Bank XYZ tergolong undervalued dibandingkan rata-rata industrinya.

Kapan Menggunakan PER vs PBV? (Matriks Sektor)

Tidak semua rasio cocok untuk semua emiten. Berikut panduan penggunaannya:

Metode ValuasiSektor yang Cocok
PER (Price to Earning)Consumer Goods, Manufaktur, Ritel, Teknologi (yang sudah profit). Fokus pada stabilitas laba.
PBV (Price to Book)Perbankan, Properti, Konstruksi. Fokus pada aset fisik dan uang.
EV/EBITDATelekomunikasi, Infrastruktur, Tambang. Fokus pada kas operasional sebelum depresiasi.

Kesimpulan

Menghitung valuasi saham adalah langkah preventif agar tidak terjebak membeli saham di harga yang tidak masuk akal. Kombinasi metode PER dan PBV yang disandingkan dengan analisis ROE memberikan gambaran utuh tentang kualitas dan harga saham.

Ingatlah bahwa valuasi bukan ilmu pasti, melainkan seni estimasi. Selalu gunakan Margin of Safety dan jangan hanya terpaku pada satu indikator saja. Lakukan riset mandiri secara mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.

⚠️ DISCLAIMER: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan rekomendasi beli/jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor. Lakukan analisis mendalam atau konsultasikan dengan profesional keuangan.

FAQ (Pertanyaan Umum)

Berapa angka PER saham yang bagus?

Secara umum, PER di bawah 15x sering dianggap wajar untuk perusahaan mapan (bluechip) di Indonesia, atau di bawah rata-rata historis 5 tahunnya. Namun, untuk saham bertumbuh (growth stock), PER bisa lebih tinggi.

Apa arti PBV di bawah 1 kali?

PBV < 1 artinya harga saham dijual lebih murah daripada nilai bersih asetnya. Ini bisa menjadi peluang emas (undervalued), tapi bisa juga tanda perusahaan sedang bermasalah atau asetnya sulit dicairkan (value trap).

Bagaimana cara menghitung harga wajar saham secara sederhana?

Cara termudah adalah dengan mengalikan EPS (Laba per saham) dengan rata-rata PER historisnya. Contoh: Jika EPS Rp100 dan rata-rata PER 5 tahun adalah 12x, maka Harga Wajar = 100 x 12 = Rp1.200.