Limbangantengah.id – Budaya Islam warisan Majapahit membentuk peradaban Nusantara yang kaya di masa kini. Warisan kerajaan Hindu-Buddha tersebut mencakup jejak arsitektur masjid tradisional di Pulau Jawa hingga tradisi kuliner ketupat dan lepet saat merayakan Lebaran. Pengaruh perpaduan budaya ini bertahan melewati berabad-abad hingga tahun 2026.
Peradaban ini memadukan nilai spiritual Islam dengan estetika bangunan kuno peninggalan Majapahit. Arkeolog dan pemerhati sejarah Asisi Suhariyanto melalui ASISI Channel memaparkan bagaimana unsur-unsur kuno Jawa melekat kuat dalam bangunan ibadah umat Islam. Kajian ini memberikan pandangan baru mengenai akulturasi budaya yang masih hidup di tengah masyarakat sampai saat ini.
Jejak Arsitektur Masjid Kuno Warisan Majapahit
Masjid Agung Demak merepresentasikan bukti nyata perpaduan arsitektur tersebut. Masyarakat meyakini Wali Songo mendirikan masjid ini dengan membawa pilar-pilar langsung dari istana Majapahit. Tradisi tutur menceritakan perpindahan elemen bangunan kerajaan besar ini ke wilayah kesultanan Islam di Jawa.
Asisi Suhariyanto menjelaskan bahwa pilar-pilar di salah satu masjid tertua di Jawa ini memiliki aksesori bangunan candi yang spesifik. Elemen-elemen tersebut meliputi lapik, pelipit, sulur, antefiks, dan hiasan tumpal. Para pengrajin masa lalu mengadaptasi motif-motif ini untuk mempercantik rumah ibadah tanpa menghilangkan esensi lokalnya.
Tidak hanya penggunaan pilar, dinding masjid masa itu juga menampilkan keramik bermotif mirip medalion, meander, dan tapak dara. Menariknya, hiasan serupa juga menghiasi Masjid Menara Kudus yang memiliki kemiripan gaya bangunan. Faktanya, fungsi elemen ini berbeda antara candi dan masjid.
Di candi Jawa kuno, tukang batu menggunakan medalion dan meander sekadar sebagai ragam hias. Akan tetapi, tapak dara berfungsi sebagai penolak bala dalam kepercayaan saat itu. Transformasi fungsi ragam hias ini menunjukkan bagaimana leluhur memadukan nilai mistis lama dengan semangat baru keislaman.
Filosofi Atap Tumpang dan Simbolisme Bangunan
Atap tumpang menjadi ciri khas arsitektur Majapahit yang paling dominan pada bangunan masjid tradisional Jawa. Relief Candi Sukuh di Karanganyar bahkan menggambarkan wujud atap bertingkat tiga yang serupa dengan desain masjid-masjid kuno. Konstruksi ini mencerminkan kearifan lokal yang sudah mapan sejak masa kerajaan.
Filosofi gunung suci Mahameru yang terdiri dari tiga tingkat atau Triloka mendasari pembangunan atap tumpang tersebut. Banyak pihak berargumen bahwa struktur bangunan ini mewakili kosmologi Hindu-Buddha yang kemudian mengalami adaptasi. Selain itu, pemikiran Buya Hamka juga memberikan perspektif berbeda mengenai simbolisme struktur atap ini.
Selanjutnya, konsep pembangunan masjid agung di sekitar alun-alun juga mencerminkan tata letak kota khas Majapahit. Kitab Negarakertagama menuliskan keberadaan asrama pendeta Buddha, Siwa, dan Wipra di dekat Lapangan Wanguntur atau alun-alun pusat pemerintahan. Pengelola kota masa Jawa kuno menerapkan tata ruang zonasi keagamaan yang sangat teratur di sekitar pusat kota.
Kuliner Tradisional Sebagai Warisan Budaya
Tradisi Islam Jawa menyimpan jejak Majapahit melalui kuliner khas perayaan Lebaran. Masyarakat mengenal ketupat dan lepet sebagai sajian wajib sejak abad ke-11 Masehi. Istilah kupat muncul pertama kali dalam naskah kuno Kakawin Ramayana, Subadra Wiwaha, dan Kresnayana yang berasal dari periode Kerajaan Kediri.
Sementara itu, Kakawin Korawasrama mencatat keberadaan lepet sebagai kuliner nusantara yang diduga lahir pada masa Majapahit. Tradisi ini menunjukkan kesinambungan gaya hidup dari masa kerajaan hingga masa kini. Berikut merupakan ringkasan mengenai asal-usul dan fungsi kuliner tersebut dalam tradisi lokal:
| Elemen Budaya | Asal Naskah/Sumber | Fungsi Tradisi |
|---|---|---|
| Ketupat | Kakawin Ramayana, Kresnayana | Pemujaan Dewi Sri & Menolak Bala |
| Lepet | Kakawin Korawasrama | Sajian Kuliner Era Majapahit |
Penelitian sejarah menduga masyarakat pada masa itu menggunakan ketupat sebagai sarana pemujaan kepada Dewi Sri. Sosok tersebut mewakili simbol kesuburan bagi masyarakat agraris. Oleh karena itu, ketupat memiliki posisi sakral dalam siklus kehidupan masyarakat Jawa.
Dalam praktiknya, masyarakat menggantung ketupat di ambang pintu atau jendela rumah. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk menolak bala atau energi negatif. Ritual ini menyerupai fungsi tapak dara pada dinding candi yang juga bertujuan untuk perlindungan spiritual. Hingga tahun 2026, tradisi menyantap hidangan ini pun tetap bertahan di tengah arus modernisasi.
Pelestarian Warisan Masa Lalu di Era Modern
Pelestarian warisan fisik dan non-fisik dari masa Majapahit menjadi tanggung jawab bersama. Masjid-masjid kuno berfungsi sebagai bukti sejarah yang tetap hidup dan memberikan manfaat bagi umat. Selain itu, nilai-nilai filosofis dalam kuliner Lebaran memperkuat identitas budaya masyarakat Nusantara.
Generasi saat ini bisa belajar banyak dari keterbukaan leluhur dalam menerima ajaran baru. Mereka sanggup mengintegrasikan elemen lama dengan semangat baru secara halus. Pada akhirnya, keberlanjutan tradisi ini membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi bagi kehidupan di tahun 2026 dan masa depan.
