Limbangantengah.id – Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di Selat Hormuz karena situasi yang belum sepenuhnya normal. Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan informasi ini, menjelaskan bahwa jalur pelayaran minyak global tersebut masih dalam kondisi sensitif per 2026.
Alasan Tanker Pertamina Tertahan Menurut Iran
Mohammad Boroujerdi menjelaskan bahwa kondisi Selat Hormuz saat ini bukan kondisi normal. Selat Hormuz harus melalui serangkaian protokol yang ditetapkan oleh pihak keamanan Iran.
“Selat Hormuz saat ini tidak dalam kondisi biasa. Harus melalui beberapa protokol yang ditetapkan oleh pihak keamanan,” ujar Boroujerdi di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, seperti dikutip Detik News pada Sabtu (11/4), yang tentunya mengacu pada kondisi saat itu. Saat ini, per 2026, protokol serupa masih berlaku.
Ia menambahkan, kapal-kapal yang akan melintasi Selat Hormuz wajib melalui proses koordinasi dan negosiasi dengan pihak keamanan Iran. Protokol ini diterapkan untuk memastikan keamanan di tengah situasi konflik yang mungkin terjadi.
“Pada masa seperti ini tentunya ada beberapa protokol yang harus dilalui, termasuk bernegosiasi dengan pihak keamanan dari Iran,” imbuhnya.
Boroujerdi menegaskan bahwa Iran pada prinsipnya tidak menutup akses pelayaran. Namun, seluruh kapal wajib mematuhi aturan yang berlaku di wilayah tersebut demi keamanan bersama.
Upaya Pertamina International Shipping (PIS)
PT Pertamina International Shipping (PIS) terus berupaya agar kedua kapal miliknya dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyampaikan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) per update 2026.
Vega menjelaskan bahwa Kemlu secara aktif menjalin komunikasi diplomatik dengan otoritas terkait di Iran. Langkah ini penting untuk memastikan kelancaran proses perizinan dan keamanan selama pelayaran.
“Kedua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni VLCC Pertamina Pride & Gamsunoro yang berada di Teluk Arab saat ini masih diupayakan untuk bisa melintasi Selat Hormuz,” terang Vega dalam keterangan resmi tertulis pada Rabu (8/4) yang mengacu pada tahun sebelumnya. Saat ini, di 2026, upaya serupa terus dilakukan.
PIS bersama Kemlu terus memantau perkembangan situasi setiap hari. Mereka juga membahas persiapan teknis agar kedua kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman dan lancar.
Prioritas Utama: Keselamatan Awak Kapal
Vega Pita menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal. Selain itu, keamanan kapal dan muatannya juga menjadi perhatian penting dalam proses ini. PIS memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat terselesaikan dengan baik di 2026.
“Prioritas perusahaan tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat terselesaikan dengan baik,” imbuhnya.
Kondisi Sensitif di Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur vital pelayaran minyak global. Oleh karena itu, kondisi keamanan di perairan ini sangat penting untuk dijaga dan diperhatikan. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah seringkali berdampak pada stabilitas pelayaran di Selat Hormuz, termasuk di 2026.
Protokol keamanan yang diterapkan oleh Iran merupakan langkah antisipasi untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan. Koordinasi yang baik antara PIS, Kemlu, dan otoritas Iran diharapkan dapat memastikan kelancaran pelayaran kapal-kapal Pertamina International Shipping (PIS) di Selat Hormuz.
Dampak Keterlambatan pada Distribusi Energi
Keterlambatan pelayaran dua kapal tanker Pertamina International Shipping (PIS) berpotensi berdampak pada jadwal distribusi energi. Namun, PIS berupaya untuk meminimalkan dampak tersebut dengan melakukan penjadwalan ulang dan mencari alternatif pasokan jika diperlukan.
Pemerintah Indonesia melalui Kemlu terus berupaya untuk memastikan kelancaran pelayaran kapal-kapal nasional di perairan internasional. Koordinasi dengan negara-negara sahabat juga dilakukan untuk menjaga keamanan dan stabilitas pelayaran.
Antisipasi untuk Masa Depan
Insiden ini menjadi pelajaran penting bagi PIS dan perusahaan pelayaran lainnya. Perusahaan perlu meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan otoritas terkait di negara-negara yang dilalui oleh kapal mereka. Pemahaman yang baik mengenai protokol keamanan dan regulasi setempat sangat penting untuk menghindari keterlambatan dan masalah lainnya di kemudian hari.
Selain itu, diversifikasi rute pelayaran juga dapat menjadi solusi untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu jalur tertentu. PIS dapat menjajaki alternatif rute pelayaran yang lebih aman dan stabil, meskipun mungkin membutuhkan biaya yang lebih besar.
Kesimpulan
Dua kapal tanker Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di Selat Hormuz karena kondisi keamanan yang belum stabil. Upaya koordinasi dan negosiasi terus dilakukan oleh PIS dan Kemlu untuk memastikan kelancaran pelayaran dan keselamatan awak kapal. Semoga masalah ini segera teratasi sehingga distribusi energi tidak terganggu, dan PIS dapat mengambil pelajaran berharga dari kejadian ini untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi operasional di masa depan. Tetap pantau perkembangan terbaru 2026 terkait situasi terkini di Selat Hormuz.
