Limbangantengah.id – Sistem rem kendaraan yang stabil berpotensi menyelamatkan 8.000 jiwa per tahun. Temuan ini terungkap dalam studi terbaru 2026 oleh Pusat Pengujian, Pengukuran, Pelatihan, Observasi, dan Layanan Rekayasa Universitas Indonesia (POLAR UI).
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan terbuka terhadap penerapan teknologi keselamatan kendaraan untuk menekan angka kecelakaan, terutama pada sepeda motor. Selain itu, Kemenhub juga mendorong inovasi teknologi yang adaptif dengan perkembangan zaman.
Pentingnya Sistem Pengereman Stabil untuk Keselamatan
Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Yusuf Nugroho, menjelaskan bahwa fitur keselamatan pada kendaraan berperan penting dalam mengurangi risiko kesalahan manusia. Hal ini terutama krusial mengingat sepeda motor dan kendaraan kecil mendominasi lalu lintas di Indonesia pada 2026.
Yusuf menambahkan, pemerintah mendukung penuh teknologi yang meningkatkan keselamatan berkendara. Kerangka regulasi dan kebijakan akan terus dikembangkan menjadi standar yang lebih konkret untuk implementasi optimal.
Penguatan standar keselamatan ini sangat penting. Berbagai riset membuktikan bahwa intervensi pada aspek kendaraan memberikan dampak signifikan terhadap keselamatan jalan.
Standar Keselamatan Kendaraan di Indonesia dan Negara Lain
Di beberapa negara ASEAN dan India, teknologi keselamatan sepeda motor telah menjadi standar minimum. Indonesia sendiri masih dalam tahap pengembangan standar ini, meski urgensinya terus meningkat per 2026.
Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Rio Octaviano, menyoroti fakta bahwa setiap jam, dua hingga tiga orang meninggal di jalan raya, mayoritas adalah pengendara sepeda motor. Intervensi serius sangat dibutuhkan segera.
Rio juga menyoroti ironi kecelakaan yang sering terjadi saat kondisi jalan dianggap aman, seperti jalan lurus dan cuaca cerah. Kondisi ini meningkatkan rasa percaya diri berlebih pengendara dan mengungkap bahwa kecelakaan bukan hanya akibat kelalaian individu.
Pilar Keselamatan dan Implementasinya di Indonesia
Rio Octaviano berpendapat bahwa Indonesia sebenarnya memiliki lima pilar keselamatan jalan dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Akan tetapi, implementasinya belum seimbang, terutama pada pilar teknologi kendaraan.
Penguatan aspek kendaraan menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan fatalitas. Hal ini bukan pengganti pilar lain, melainkan pelengkap sistem keselamatan untuk melindungi pengguna jalan lebih efektif.
Pendekatan sistemik seperti di sektor penerbangan dan perkeretaapian perlu diterapkan. Setiap insiden harus memicu evaluasi menyeluruh, terutama pada kendaraan roda dua yang berkontribusi besar terhadap angka kematian.
“Di tingkat global, kecelakaan bukan lagi sekadar *accident*, melainkan *road crash* yang bisa dicegah. Namun di Indonesia masih dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Karena itu, penguatan kendaraan berkeselamatan harus dilihat sebagai upaya melindungi, bukan membebani,” kata Rio.
Peran Teknologi dalam Menekan Angka Fatalitas Kecelakaan
Praktisi keselamatan jalan dari ASEAN NCAP, Adrianto Sugiarto, mengungkapkan bahwa 46 persen kecelakaan di Asia Tenggara melibatkan sepeda motor. Indonesia, dengan hampir 40 persen populasi ASEAN, menjadi kontributor terbesar di kawasan tersebut.
“Mengubah perilaku ratusan juta masyarakat membutuhkan waktu panjang. Sementara itu, nyawa terus melayang di jalan setiap hari. Dalam kondisi ini, teknologi menjadi salah satu langkah relevan untuk menekan fatalitas korban,” kata Andrianto.
Bahkan, Andrianto meyakini bahwa intervensi teknologi keselamatan pada kendaraan, terutama sistem pengereman yang lebih stabil, dapat memberikan dampak signifikan dalam mengurangi risiko kecelakaan dan menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahunnya.
Urgensi Penerapan Standar Keselamatan Kendaraan
Dari pemaparan di atas, jelas bahwa penerapan standar keselamatan kendaraan, khususnya sistem pengereman yang stabil, sangat mendesak di Indonesia per 2026. Studi POLAR UI menunjukkan potensi besar dalam menyelamatkan nyawa.
Selain itu, Pemerintah dan pihak terkait perlu mempercepat implementasi pilar teknologi kendaraan dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tujuannya agar menciptakan sistem keselamatan yang lebih komprehensif dan efektif melindungi seluruh pengguna jalan.
Kesimpulan
Dengan sistem pengereman yang lebih stabil, ribuan nyawa berpotensi terselamatkan setiap tahun di Indonesia. Pemerintah, produsen kendaraan, dan masyarakat perlu bersinergi untuk mewujudkan jalanan yang lebih aman bagi semua.
Mari bersama-sama tingkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan berkendara dan mendukung penerapan teknologi yang melindungi kita di jalan raya. Setiap nyawa berharga, dan keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
