Limbangantengah.id – Empat astronaut misi Artemis II akan menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total dari sisi jauh Bulan pada Senin malam (6/4/2026) waktu Amerika atau Selasa pagi (7/4/2026) waktu Indonesia. Momen bersejarah ini terjadi saat kapsul Orion milik NASA melintasi sisi jauh Bulan dalam manuver lunar flyby.
Perjalanan ini mencapai puncak setelah peluncuran roket sukses berlangsung pada 1 April 2026. Jadwal pelaksanaan gerhana dimulai sekitar pukul 20.35 EDT atau 07.35 WIB pada 7 April 2026. Fenomena langka ini hanya terlihat dari posisi kapsul Orion yang berada jauh di balik Bulan, sehingga tidak satu pun orang di permukaan Bumi bisa melihatnya secara langsung.
Detail Fenomena Gerhana Matahari Total di Orbit Bulan
Pihak NASA mengonfirmasi keistimewaan fenomena ini terletak pada durasi dan skala penampakannya yang luar biasa. Kapsul Orion berada jauh lebih dekat ke Bulan daripada pengamat di permukaan Bumi. Akibat posisi tersebut, Bulan tampak jauh lebih besar bagi para astronaut daripada perspektif pengamat di planet kita.
Situasi ini menciptakan dampak visual yang signifikan bagi para kru misi. Selain itu, Matahari akan tertutup sepenuhnya selama kurang lebih 53 menit. Durasi ini melampaui waktu maksimum gerhana total yang pengamat di Bumi saksikan, bahkan hampir mencapai tujuh kali lipat lebih lama.
Kelsey Young selaku pemimpin operasi sains penerbangan Artemis dari NASA memberikan penjelasan pada Sabtu (4/4/2026). Ia menyatakan bahwa dari sudut pandang manusia di Bumi, Bulan dan Matahari tampak memiliki ukuran yang hampir sama. Namun, kapsul Orion memberikan perspektif yang berbeda secara drastis bagi para astronaut saat mereka melihat langsung ke arah Matahari.
Berikut adalah tabel perbandingan singkat mengenai fenomena gerhana ini berdasarkan perspektif pengamat:
| Kriteria Pengamatan | Perspektif Bumi | Perspektif Astronaut Orion |
|---|---|---|
| Ukuran Bulan | Normal/Standar | Jauh lebih besar |
| Durasi Gerhana | Durasi standar | Hingga 53 menit |
Observasi Ilmiah Selama Fase Gerhana
NASA tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka yang membawa misi Artemis II ke titik tersebut. Para petugas meminta astronaut melakukan observasi ilmiah selama gerhana berlangsung, dengan fokus utama pada korona Matahari. Lapisan terluar atmosfer bintang ini biasanya sulit diamati karena silau cahaya yang sangat kuat.
Lebih dari itu, tim darat menyediakan panduan khusus bagi para astronaut untuk mendeskripsikan fitur-fitur korona yang mereka lihat. Ilmuwan berharap pengamatan ini bisa membantu mereka memahami proses alami di korona dari sudut pandang yang belum pernah tersedia sebelumnya. Faktanya, Young menekankan kemampuan mata manusia yang unik untuk menangkap nuansa warna serta bayangan yang sangat halus, yang terkadang gagal ditangkap oleh kamera robotik.
Sebagai contoh, sejarah misi Apollo 17 membuktikan efektivitas observasi manusia saat astronaut memperhatikan regolith berwarna oranye. Penemuan tersebut berhasil mengungkap lapisan vulkanik di Bulan yang ternyata jauh lebih muda daripada perkiraan awal para ahli. Ilmuwan memprediksi misi Artemis II dapat memberikan kontribusi serupa melalui pemantauan visual langsung ini.
Bonus Tak Terduga Bagi Kru Artemis II
Bagi Jeremy Hansen, astronaut asal Kanada yang ikut dalam misi ini, fenomena alam tersebut menjadi bonus yang sangat menakjubkan. Awalnya, kru tidak memperkirakan akan mengalami peristiwa astronomi seunik ini dalam perjalanan mereka. Namun, jadwal peluncuran pada 1 April 2026 membawa mereka tepat ke momen puncak gerhana saat berada di posisi orbit Bulan.
Tentu saja, gerhana semacam ini bukan menjadi pengalaman pertama bagi umat manusia di luar angkasa. Astronaut misi Apollo terdahulu pun pernah menyaksikan pemandangan yang serupa dari kawasan lunar. Akan tetapi, generasi astronotika saat ini mencatat sejarah sebagai manusia pertama setelah era Apollo yang kembali berada cukup dekat dengan Bulan untuk mengalami peristiwa serupa.
Rencana Kepulangan Kapsul Orion ke Bumi
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di sisi jauh Bulan, kapsul Orion akan meluncur kembali menuju Bumi untuk menyudahi misi luar angkasa mereka. Sesuai rencana, para astronaut dijadwalkan mendarat di lepas pantai San Diego pada Jumat (10/4/2026). Kedatangan mereka menandai penyelesaian misi lunar berawak pertama sejak lebih dari lima dekade terakhir.
Keberhasilan misi Artemis II menunjukkan bahwa eksplorasi ruang angkasa memiliki banyak kejutan bagi manusia. Kesuksesan observasi korona dan data yang para astronaut peroleh akan menjadi bahan riset berharga selama bertahun-tahun ke depan. Singkatnya, perjalanan ini mempertegas kembali komitmen NASA dalam membuka cakrawala baru melalui penjelajahan bulan serta pemahaman mendalam tentang alam semesta di luar planet Bumi.
