Beranda » Berita » Baliho Film Aku Harus Mati Diturunkan Usai Menuai Kritik Publik

Baliho Film Aku Harus Mati Diturunkan Usai Menuai Kritik Publik

Limbangantengah.id – Sutradara Hestu Saputra mengumumkan pencabutan baliho promosi film horor Aku Harus Mati secara bertahap sejak Senin (6/4/2026). Rumah produksi Rollink Action mengambil langkah tersebut sebagai respons atas berbagai kritik masyarakat perihal potensi gangguan emosional dan psikologis akibat materi visual baliho tersebut.

Hestu menjelaskan, pihak rumah produksi sudah bekerja selama dua hari terakhir untuk menurunkan baliho-baliho di berbagai titik wilayah secara berkala. Pemilihan judul film ini pun membawa pesan spesifik mengenai kondisi karakter Mala yang diperankan oleh Hana Saraswati, yang terjebak dalam obsesi validasi sosial serta jeratan utang dan paylater.

Kritik Etika Baliho Film Aku Harus Mati

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengecam keras materi promosi tersebut melalui pernyataan resmi. Sekretaris Eksekutif , Rio Priambodo, menilai materi iklan sudah melampaui batas kepatutan dan etika publik. YLKI juga mendesak Lembaga Sensor Film (LSF) agar lebih teliti dalam mempertimbangkan aspek etika, tidak hanya terpaku pada substansi cerita di dalam film.

Selain kritik dari YLKI, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI) memberikan catatan serius mengenai konten tersebut. Mereka menilai narasi dan visual yang ditampilkan memiliki potensi memicu ketidaknyamanan emosional bagi masyarakat luas. PDSKJI bahkan memperingatkan individu dengan riwayat depresi bisa mengalami dampak buruk, termasuk dorongan untuk melakukan tindakan bunuh diri akibat provokasi visual tersebut.

Tindakan Pemprov Jakarta dan Respon Pihak Terkait

Pemerintah Provinsi mengambil langkah tegas dengan menertibkan sejumlah baliho promosi film tersebut. Aparat terkait menurunkan materi iklan di tiga lokasi strategis sebagai respons atas keluhan warga. Lokasi meliputi:

Baca Juga:  PPPK Kemenkumham 2026 Dibuka: Jadwal, Syarat & Formasi Lengkap
Titik Lokasi Baliho
Jalan Puri Kembangan
Jalan Daan Mogot Km 11 (Jembatan Gantung)
Pos Perempatan Harmoni

Langkah penertiban ini menunjukkan betapa seriusnya menanggapi isu ketertiban umum dan perlindungan psikologis warga ibu kota. Pihak rumah produksi pun memilih sikap kooperatif dengan menghentikan penayangan iklan tersebut guna meredam polemik yang terus meluas di masyarakat.

Signifikansi Judul dan Isu Sosial Film

menegaskan bahwa judul film merepresentasikan isu nyata yang sangat relevan saat ini. Karakter Mala menggambarkan potret individu yang rela mengorbankan jiwa demi pengakuan sosial dan materi. Cerita ini menyoroti bagaimana seseorang jatuh dalam perangkap keuangan modern seperti pinjol dan paylater.

Meskipun judul film memicu kontroversi, tim kreatif berharap audiens memahami konteks film secara utuh saat menyaksikannya nanti. Hestu menyatakan bahwa pesan moral tentang bahaya obsesi validasi sosial akan terjawab setelah penonton mengikuti alur ceritanya. Diskusi mengenai batasan etika dalam industri kreatif kini menjadi sorotan utama bagi praktisi film ke depan.

Pihak terkait kini menarik pelajaran penting dari peristiwa ini untuk masa depan industri film nasional. Ke depannya, kolaborasi antara produser, LSF, dan lembaga perlu berjalan lebih transparan. Masyarakat sendiri tetap menaruh harapan agar setiap materi promosi film selalu mempertimbangkan aspek kenyamanan psikologis warga tanpa mengurangi esensi cerita yang ingin sineas sampaikan.