Beranda » Berita » Harga minyak global melonjak usai serangan drone di Dubai

Harga minyak global melonjak usai serangan drone di Dubai

Limbangantengah.id – Harga minyak global melonjak drastis setelah sebuah drone menyerang kapal tanker minyak mentah raksasa, Al-Salmi, di perairan dekat Pelabuhan Dubai, Uni Emirat Arab, pada Selasa dini hari, 31 Maret 2026. Kelompok Iran melancarkan serangan udara yang memicu kebakaran hebat pada kapal berbendera Kuwait tersebut tepat saat kapal ini sedang menunggu antrean untuk melanjutkan pelayaran menuju China.

Tim pemadam kebakaran maritim Dubai bekerja cepat meredam kobaran api di atas kapal berkapasitas 2 juta barel minyak mentah ini. Pihak Kuwait Petroleum Corporation selaku pemilik kapal mengonfirmasi kerusakan fisik pada lambung kapal, namun petugas memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Otoritas setempat menyatakan situasi terkendali dan tidak ada tumpahan minyak berarti ke laut hingga saat ini.

Dampak kenaikan harga minyak global pasca serangan tanker

Harga minyak global melonjak tajam akibat insiden ini karena kepercayaan pasar terhadap jalur distribusi energi menjadi goyah. Data pasar menunjukkan lonjakan harga minyak Brent yang menyentuh angka di atas $115 per barel. Selain itu, harga West Texas Intermediate (WTI) juga ikut terdampak dan bergerak di kisaran $101 hingga $105 per barel.

Ketidakpastian ini diperparah dengan situasi yang sudah tertutup bagi lalu lintas kapal sejak 28 Februari . Jalur strategis ini menopang sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia. Akibat penutupan jalur yang berlangsung selama 31 hari ini, rantai pasok dunia terganggu secara signifikan dan memicu inflasi harga BBM di banyak negara.

Baca Juga:  Harga Pertalite Terbaru 2026: Pertamina Pastikan Tidak Ada Kenaikan

Faktanya, konsumen di Amerika Serikat sudah merasakan beban berat karena harga bensin nasional menembus angka $4 per galon untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Data dari GasBuddy memperjelas bahwa krisis ini bukan sekadar masalah regional, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas biaya energi rumah tangga di berbagai belahan dunia.

Eskalasi konflik dan ancaman ekonomi di Selat Hormuz

Situasi memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan instruksi tegas. Donald Trump memperingatkan bahwa tentara Amerika Serikat bakal meniadakan seluruh pembangkit listrik, sumur minyak, serta Pulau Kharg sebagai pusat ekspor utama Iran apabila negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum 6 April 2026.

Meski Donald Trump sempat menyebut adanya kemajuan dalam negosiasi dengan rezim Iran yang ia nilai lebih masuk akal, ancaman ini menjadi penanda bahwa berada di titik nadir. Konflik yang terjadi membuat maskapai penerbangan internasional terkena imbas langsung. Sebagai contoh, Korean Air terpaksa menjalankan operasional dalam mode darurat mulai April 2026 karena membengkaknya biaya avtur.

Berikut adalah dampak akibat krisis energi per Maret 2026:

Indikator EnergiStatus / Harga
Harga BrentDi atas $115/barel
Harga WTI$101 – $105/barel
Bensin AS (Rata-rata)Di atas $4/galon

Implikasi bagi Indonesia dan kawasan regional

Pemerintah di berbagai negara Asia Tenggara mencermati gejolak ini dengan penuh kewaspadaan. , sebagai negara yang mengandalkan impor minyak, menghadapi risiko besar terkait tekanan pada subsidi BBM serta potensi lonjakan inflasi domestik. saat ini masih berupaya menjaga stabilitas melalui alokasi cadangan energi dan kebijakan subsidi yang masih berjalan.

Selain itu, negara-negara tetangga mendesak China untuk merealisasikan komitmen keamanan energi bagi kawasan. Permintaan ini mencakup kepastian pengiriman komoditas vital seperti pupuk dan bahan bakar yang sempat terhambat. Jika China tidak mampu memenuhi kebutuhan ini, ketergantungan pada rantai pasok global akan semakin menyulitkan ekonomi regional.

Baca Juga:  Review Asuransi Mobil Takaful Syariah Terbukti Bebas Riba

Risiko lingkungan dan prospek negosiasi masa depan

Para analis terus memantau ancaman lingkungan dari serangan di Teluk tersebut. Tumpahan minyak dari kapal Al-Salmi dikhawatirkan merusak ekosistem laut jika prosedur penanganan tidak berjalan efektif. Meski otoritas Dubai berhasil mencegah tumpahan besar, risiko jangka panjang masih tetap ada selama konflik militer terus berlangsung di wilayah perairan.

Hingga saat ini, pihak Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai keterlibatan mereka dalam serangan ke kapal Al-Salmi. Sementara itu, Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan operasi militer mereka di wilayah Timur Tengah. Dunia kini menunggu apakah ancaman ultimatum Donald Trump akan terwujud atau kedua belah pihak memilih jalan perundingan sebelum batas waktu 6 April 2026 tiba.

Singkatnya, gejolak ini mempertegas bahwa serangan terhadap infrastruktur komersial bukan hanya eskalasi senjata, tetapi juga serangan langsung terhadap denyut nadi . Kebijakan pemerintah dalam memitigasi dampak subsidi BBM menjadi kunci keberlangsungan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian pasokan internasional yang terus menghantui pasar energi per 2026.