Limbangantengah.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan sejumlah wilayah Indonesia akan memulai musim kemarau lebih cepat pada April 2026 mendatang. Prediksi ini muncul bersamaan dengan tanda-tanda kemunculan fenomena iklim ekstrem yang para ahli sebut sebagai Godzilla El Nino, sebuah anomali iklim yang berpotensi memicu musim kemarau jauh lebih panjang dari rata-rata klimatologinya.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hasil pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik pada awal Maret 2026. Data menunjukkan nilai indeks ENSO berada pada angka -0,28 yang masuk dalam kategori Netral. Kondisi ini diprediksi bertahan hingga Juni 2026, namun setelah itu, peluang kemunculan El Nino kategori Lemah-Moderat mulai meningkat hingga 50-60 persen pada semester kedua tahun 2026.
Waspada Ancaman Godzilla El Nino Sepanjang 2026
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan peringatan keras mengenai potensi fenomena Godzilla El Nino yang bakal menerjang Indonesia mulai April 2026. Profesor Riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa Godzilla El Nino merupakan variasi sangat kuat dari fenomena El Nino biasa. Fenomena ini mampu menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering dan memiliki durasi jauh lebih panjang daripada kondisi normal.
Selain itu, Erma memprediksi Godzilla El Nino dan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif akan berlangsung secara bersamaan. Kombinasi kedua fenomena ini dapat membawa dampak signifikan bagi ekosistem dan sektor pertanian nasional sepanjang periode April hingga Oktober 2026. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan ekstrem yang mengancam stok air serta memicu risiko gagal panen, terutama di kawasan sentra pertanian Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Faktanya, istilah Godzilla El Nino pertama kali muncul dari ahli klimatologi NASA, Bill Patzert, pada tahun 2015. Istilah ini bukan terminologi ilmiah resmi, melainkan cara para peneliti menggambarkan kekuatan atmosfer yang sangat ekstrem. Sebagai gambaran, fenomena tersebut tercatat sebagai salah satu yang terkuat sejak awal pencatatan iklim pada tahun 1950.
Peta Wilayah Indonesia yang Memasuki Musim Kemarau
BMKG membagi dimulainya musim kemarau ke dalam beberapa fase waktu berdasarkan zona musim (ZOM). Pada bulan April 2026, sebanyak 114 zona musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia secara resmi memasuki periode kemarau. Wilayah-wilayah tersebut mencakup:
- Pesisir utara Jawa bagian barat
- Pesisir utara dan selatan Jawa Tengah
- Sebagian besar D.I Yogyakarta
- Sebagian Jawa Timur
- Sebagian Bali
- Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur
- Sebagian kecil Sulawesi Selatan
Selanjutnya, BMKG memperkirakan intensitas kemarau akan meluas pada bulan berikutnya. Sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah akan menyusul masuk ke musim kemarau pada Mei 2026. Kemudian, menyusul 163 ZOM atau 23,3 persen wilayah lainnya baru akan mengalami musim kemarau pada Juni 2026.
Puncak Musim Kemarau dan Prediksi Curah Hujan
Analisis BMKG menunjukkan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi secara merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. Berikut adalah tabel distribusi puncak musim kemarau berdasarkan analisis BMKG:
| Bulan Puncak Kemarau | Jumlah ZOM | Persentase Wilayah |
|---|---|---|
| Juli | 88 ZOM | 12,6% |
| Agustus | 429 ZOM | 61,4% |
| September | 100 ZOM | 14,3% |
Wilayah yang mengalami puncak kemarau pada bulan Juli mencakup sebagian Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta meluas ke sebagian kecil Jawa dan Nusa Tenggara. Selain itu, wilayah Sulawesi, Maluku, hingga bagian barat Pulau Papua juga masuk dalam kategori ini. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa cuaca tinggi yang masih terjadi di beberapa tempat hanyalah karakteristik masa peralihan musim yang lumrah.
Dampak Regional fenomena Godzilla El Nino
Erma Yulihastin mencatat bahwa dampak Godzilla El Nino tidak terjadi secara seragam di seluruh Indonesia. Berdasarkan penelitian pada periode 2023, wilayah selatan garis ekuator mengalami penurunan curah hujan signifikan pada Juni hingga September. Akibatnya, area pertanian di Jawa dan Sumatra bagian selatan menderita gagal panen, sementara NTT, NTB, dan Papua bagian selatan mengalami kekeringan parah.
Di sisi lain, kondisi berbeda justru menyasar wilayah utara Indonesia. Fenomena ini berpotensi memicu kenaikan curah hujan di wilayah utara. Data tahun 2023 membuktikan bahwa curah hujan tinggi memicu banjir besar di sebagian Sumatra bagian utara dan barat, serta Kalimantan bagian tengah. Dengan demikian, sinkronisasi data iklim sangat penting bagi masyarakat agar bisa melakukan antisipasi dini menghadapi dinamika cuaca yang drastis.
Sebagai langkah mitigasi, Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa kondisi Indian Ocean Dipole tetap stabil pada fase netral sepanjang tahun 2026. Meskipun demikian, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama. Seluruh pihak perlu mencermati perkembangan indeks iklim setiap bulan demi meminimalisir kerugian sektor pertanian serta memastikan ketersediaan cadangan air nasional tetap terjaga selama masa kemarau panjang yang mengintai di tahun 2026.
