Limbangantengah.id – Fabian Maulana Alkafi, remaja berusia 14 tahun asal Kediri, mengukir prestasi internasional melalui karya seni gambar pada 2026. Ia membuktikan bahwa tantangan disleksia tidak menghalangi langkahnya dalam menuangkan imajinasi melalui medium kanvas dan krayon.
Karya seni Fabian menghiasi dinding Nobi Kitchen, sebuah kafe di lantai dua Pasar Pahing, Kediri. Nafiah Wulandari, sang ibu, mengelola tempat tersebut sekaligus menjadi pendukung utama perjalanan kreatif Fabian dalam menghadapi disleksia.
Mengubah Tantangan Disleksia Menjadi Karya Seni
Disleksia merupakan kondisi neurologis yang menyulitkan penyandang dalam membaca, mengeja, hingga menulis. Gangguan ini memengaruhi cara otak memproses informasi bahasa, namun tidak mencerminkan tingkat kecerdasan seseorang. Alhasil, Fabian mengalami kesulitan saat ia menempuh pendidikan di sekolah reguler.
Tekanan sosial saat itu membuat Fabian sering menolak sekolah, terutama saat pandemi Covid-19 melanda. Ia kerap kesulitan mengelola emosi dan merasa berbeda dari teman sebayanya. Menanggapi kondisi tersebut, Nafiah melakukan berbagai konsultasi ke instansi kesehatan guna mencari solusi terbaik bagi putranya.
Langkah nyata dimulai saat Fabian menjalani terapi disleksia pada usia 8 tahun. Terapis dan orang tua menggunakan warna serta gambar sebagai media stimulasi utama untuk mengatasi kompleksitas huruf bagi Fabian. Metode ini berhasil mengubah krayon dan kertas menjadi bahasa komunikasi utama baginya.
Perjalanan Kreatif Fabian Maulana
Perlahan, Fabian mengenal media kanvas melalui dorongan sepupunya. Menariknya, ia mulai menjadikan melukis sebagai rutinitas harian dengan target menyelesaikan satu kanvas setiap minggunya. Bunga sakura sering muncul sebagai objek favorit dalam imajinasi remaja kreatif ini.
Keluarga kemudian memindahkan koleksi lukisan ke Nobi Kitchen karena kapasitas hunian mereka sudah terbatas. Nafiah berharap kafe ini menjadi mini galeri agar karya sang buah hati mendapatkan ruang apresiasi yang luas. Dengan demikian, Nobi Kitchen kini berfungsi ganda sebagai tempat usaha sekaligus ruang pameran seni.
Prestasi Internasional Fabian Maulana
Kemampuan Fabian menembus batas negara bermula pada 2022. Ia memulai debut ajang lomba tingkat nasional dengan meraih juara dua dalam sebuah kompetisi yayasan. Kemenangan tersebut memicu rasa percaya diri Fabian untuk mengikuti berbagai kompetisi seni lukis tingkat dunia sepanjang 2026.
Berikut daftar pencapaian internasional yang Fabian raih dalam kurun waktu terakhir:
| Lokasi Kompetisi | Tema Karya | Penghargaan |
|---|---|---|
| Bulgaria | Keajaiban Indonesia (Raja Ampat) | Medali Perunggu |
| Turki | Warisan Budaya | Medali Perunggu |
| Taiwan | Laut dan Lingkungan | Penghargaan Juri |
Juri internasional menyukai kreativitas Fabian yang murni. Mereka menilai imajinasi unik seorang anak lebih berharga daripada kesempurnaan teknis sebuah karya. Pandangan inilah yang membuat Fabian merasa diterima dan dihargai meski memiliki keterbatasan belajar.
Dukungan Keluarga dan Kesehatan Mental
Nafiah Wulandari menerapkan pola asuh inklusif untuk menjaga kesehatan mental Fabian. Ia mengutamakan kenyamanan emosional di atas ambisi memenangkan lomba. Pasalnya, tekanan yang berlebihan dapat mematikan bakar kreatif putranya secara perlahan.
Selain melukis, Fabian kini menjalani sistem homeschooling agar lebih leluasa mengembangkan minatnya. Ia juga mulai mengasah kemandirian dengan meracik minuman pesanan pelanggan di Nobi Kitchen. Seluruh menu minuman merupakan hasil kreasi otodidaknya sendiri.
Setiap goresan warna Fabian memiliki makna mendalam terkait isi hatinya. Lukisan bertajuk “Ibu dan Aku” menggambarkan dua jerapah sebagai wujud kasih sayang keluarga. Selain itu, gambar bebek dengan payung menjadi simbol perlindungan orang tua saat Fabian merasa takut akan hujan atau petir.
Nafiah menekankan bahwa disleksia bukan sebuah hambatan, melainkan keistimewaan yang memerlukan pemahaman tepat. Ia berkomitmen menyediakan tempat aman agar Fabian terus tumbuh dengan percaya diri. Pada akhirnya, melukis tetap menjadi alat komunikasi paling jujur bagi Fabian Maulana dalam memaknai dunia.
