Beranda » Edukator Finansial » Saham Dividen Tinggi 2026: 15 Emiten dengan Yield Terbesar & Jadwalnya

Saham Dividen Tinggi 2026: 15 Emiten dengan Yield Terbesar & Jadwalnya

Mencari pendapatan pasif (passive income) melalui pasar modal tetap menjadi strategi favorit investor di Indonesia. Memasuki tahun 2026, fokus pasar tertuju pada emiten-emiten yang berhasil mencatatkan laba bersih positif sepanjang tahun buku 2025. Saham dengan dividen tinggi atau sering disebut high dividend yield stocks menjadi incaran, terutama di tengah fluktuasi suku bunga.

Namun, besaran persentase dividen tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Investor perlu jeli melihat apakah tingginya yield tersebut murni karena generositas perusahaan membagi laba, atau justru karena harga sahamnya yang sedang terdiskon parah. Berikut adalah analisis lengkap mengenai proyeksi saham pembagi dividen terbesar di tahun 2026.

RINGKASAN CEPAT:Singkatnya, emiten sektor energi (batubara) seperti ITMG, PTBA, dan ADRO diproyeksikan masih memimpin daftar high yield di 2026, meski normalisasi harga komoditas terjadi. Untuk stabilitas, sektor perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BJTM menawarkan yield moderat (4-6%) namun dengan risiko volatilitas harga yang lebih rendah dibandingkan komoditas.

Daftar 15 Saham Dividen Tinggi 2026 (Proyeksi Yield >5%)

Berdasarkan historis pembagian laba dan kinerja fundamental tahun sebelumnya, berikut adalah 15 emiten yang secara konsisten masuk dalam radar indeks IDX High Dividend 20. Daftar ini dibagi berdasarkan sektor untuk memudahkan diversifikasi portofolio.

1. Sektor Energi (Raja Dividen Jumbo)

Sektor ini dikenal paling loyal membagikan dividen, meskipun sangat bergantung pada siklus harga komoditas global.

  • PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG): Sering membagikan dividen dua kali setahun (interim dan final). Historis yield sering berada di atas 10-15%.
  • PT Bukit Asam Tbk (PTBA): Emiten pelat merah ini dikenal dengan Dividend Payout Ratio (DPR) yang bisa mencapai 100%. Yield diproyeksikan masih sangat menarik di 2026.
  • PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO): Meski sedang berekspansi ke green energy, Adaro tetap konsisten membagikan laba tunai yang besar kepada pemegang saham.
  • PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR): Kerap kali memberikan yield dua digit, menjadikannya favorit pemburu dividen small-mid cap.
  • PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP): Serupa dengan BSSR, saham ini memiliki likuiditas lebih kecil namun yield yang sangat agresif.
Baca Juga:  Cara Beli Saham Online 2026: Panduan Lengkap untuk Pemula

2. Sektor Perbankan & Finansial (Yield Stabil)

Grup ini menawarkan keseimbangan antara capital gain (kenaikan harga saham) dan dividen rutin.

  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Bank dengan laba terbesar yang rutin membagikan dividen dengan rasio tinggi. Yield berkisar 4-6%.
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Tren kenaikan laba BMRI biasanya diikuti dengan kenaikan dividen per lembar saham.
  • PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM): Bank daerah ini sangat populer karena yield tahunannya yang stabil di angka 6-8%.
  • PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk (BJBR): Saudara BJTM ini juga rutin membagikan dividen tinggi setiap tahunnya.
  • PT Woori Saudara Bank 1906 Tbk (SDRA): Sering terlupakan, namun memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.

3. Sektor Non-Komoditas Lainnya

Emiten berikut memberikan diversifikasi di luar tambang dan bank.

  • PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA): Bergerak di alat berat, HEXA sering memberikan yield di atas 10%, tergantung penjualan alat berat ke sektor tambang.
  • PT Astra International Tbk (ASII): Konglomerasi ini membagikan dividen interim dan final dengan yield total yang cukup menarik (5-7%).
  • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Defensif dan rutin bagi dividen, cocok untuk investor konservatif.
  • PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL): Emiten konstruksi swasta yang sehat dan rajin membagi keuntungan.
  • PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): Saham consumer goods yang memberikan dividen stabil meski yield-nya tidak sejumbo tambang.
Kategori SahamKarakteristik Dividen
Cyclical (Energi/Tambang)Yield Sangat Tinggi (>10%), tapi harga saham fluktuatif mengikuti harga komoditas.
✅ Banking / BluechipYield Moderat (3-6%), fundamental kuat, risiko penurunan harga lebih rendah.

Perbedaan Dividend Yield dan Payout Ratio (DPR)

Banyak investor pemula sering tertukar antara kedua istilah ini. Memahami perbedaannya sangat krusial agar tidak salah mengambil keputusan investasi di tahun 2026.

Baca Juga:  Cara Menghitung Valuasi Saham: Panduan Lengkap PER, PBV & ROE

Dividend Payout Ratio (DPR) adalah persentase laba bersih perusahaan yang dibagikan sebagai dividen. Misalnya, jika PTBA mencetak laba Rp1 Triliun dan membagikan Rp800 Miliar ke pemegang saham, maka DPR-nya adalah 80%. Semakin tinggi DPR, semakin royal manajemen perusahaan.

Sedangkan Dividend Yield adalah persentase keuntungan dividen dibandingkan dengan harga saham saat ini. Rumusnya: (Dividen per lembar / Harga Saham) x 100%. Yield inilah yang menjadi tingkat pengembalian riil uang investor. Perlu diingat, yield bersifat dinamis; jika harga saham turun, yield akan terlihat naik, padahal nominal rupiah yang diterima tetap sama.

Waspada Jebakan Dividend Trap

Istilah Dividend Trap atau jebakan dividen adalah kondisi di mana sebuah saham terlihat memiliki yield yang sangat menggiurkan (misalnya di atas 15-20%), namun sebenarnya berbahaya untuk dibeli. Biasanya, hal ini terjadi pada saham-saham siklikal yang sudah melewati masa puncaknya.

Setelah tanggal Cum Date (batas akhir pembelian saham untuk dapat dividen), harga saham sering kali anjlok sedalam persentase dividen yang dibagikan, atau bahkan lebih dalam (ARB). Jika investor membeli di pucuk hanya demi mengejar dividen, kerugian dari penurunan harga saham (capital loss) bisa jadi lebih besar daripada dividen yang didapat.

Strategi terbaik menghindari ini adalah dengan tidak membeli saham mendekati Cum Date. Idealnya, akumulasi saham dividen dilakukan jauh-jauh hari saat harga masih undervalued atau beberapa bulan sebelum RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) digelar.

Strategi Agar Dividen Bebas Pajak

Kabar baik bagi investor saham di Indonesia adalah adanya insentif pajak. Secara aturan normal, dividen dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 10%. Namun, berdasarkan UU Cipta Kerja dan aturan turunannya (PMK), dividen bisa 0% alias bebas pajak.

Baca Juga:  Rekomendasi Saham Blue Chip Terbaik 2026: Daftar & Analisis Potensi

Syarat utamanya adalah dividen tersebut harus diinvestasikan kembali (reinvestasi) ke dalam instrumen investasi di dalam negeri (seperti membeli saham lagi, obligasi, emas, atau deposito) dalam jangka waktu tertentu. Investor harus melaporkan realisasi investasi ini melalui situs DJP Online pada saat pelaporan SPT Tahunan.

Jadi, alih-alih terpotong 10%, dana tersebut bisa digulung kembali (compounding interest) untuk membeli lebih banyak lot saham, yang pada akhirnya akan melipatgandakan dividen di tahun-tahun berikutnya.

Kesimpulan

Berburu saham dividen tinggi di tahun 2026 memerlukan kombinasi analisis fundamental dan timing yang tepat. Sektor batubara seperti ITMG dan PTBA mungkin masih menawarkan yield terbesar, namun sektor perbankan menawarkan ketenangan pikiran. Pastikan selalu mengecek fundamental perusahaan dan jangan terjebak hanya melihat angka yield tanpa memperhitungkan risiko penurunan harga saham.

⚠️ DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan jual/beli (solisitasi). Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Saham apa yang membagikan dividen lebih dari sekali setahun? Beberapa emiten rutin membagikan dividen dua kali (interim dan final), di antaranya adalah ASII, ITMG, ADRO, UNTR, dan emiten grup BCA serta BRI yang terkadang membagikan dividen interim.

Kapan biasanya musim dividen 2026 terjadi? Musim dividen utama biasanya terjadi setelah rilis laporan keuangan tahunan, yakni antara bulan Maret hingga Juni 2026. Namun, dividen interim sering dibagikan pada akhir tahun (November-Desember) tahun sebelumnya.

Apakah wajib punya NPWP untuk beli saham dividen? Untuk membuka rekening saham (RDN), kepemilikan NPWP umumnya diwajibkan oleh sekuritas. Selain itu, NPWP diperlukan untuk pelaporan pajak dividen agar bisa memanfaatkan fasilitas bebas pajak melalui skema reinvestasi.